Perspektif

Menjadi Hal Baru

hal
lllustration by: Tan Panama

Mencari hal baru di setiap jengkal waktu dapat menjadi kiat untuk menghirup kesegaran hidup. Memandang segala hal dengan cara tidak biasa mampu menjadi penjernih bosan yang kerap kita keluhkan. Menjalani, mengalami, lantas memahami.

Hampir setiap hari, kita bertemu dengan orang baru. Baik di jalan, angkutan umum, kantor, dan berbagai tempat lain. Bisa jadi, mereka sering berada di dekat kita, namun selalu kita abaikan.

Pernah suatu kali, saya memilih masjid yang cukup jauh untuk shalat berjama’ah. Tentu saja banyak wajah yang baru saya lihat. Bagi mereka, saya pun orang asing yang pertama kali ditemui. Rasanya canggung ketika harus memberi senyum, salam, hingga berjabat tangan pasca sholat berjama’ah. Tapi, disanalah keindahan sebuah silaturahim. Untuk saling membiasakan dan menghapus kata ‘asing’. Membangun rasa nyaman dengan keakraban.

Tidak hanya itu, kepingan rutinitas juga berpeluang memberi hal berbeda. Banyak diantara kita setiap hari menuju tempat serupa. Dari rumah ke kantor, rumah ke kampus, atau perputarannya. Kita tahu, suatu tempat pasti memiliki lebih dari satu akses. Jika ingin menemukan hal baru, kita bisa menempuh jalur berbeda untuk tujuan yang sama.

Cara ini layak dicoba. Setiap rute perjalanan menawarkan cerita yang tak sama. Perbedaan jarak, waktu tempuh, bentang alam, orang lalu lalang, kepadatan lalu lintas. Semua itu bisa menjadi objek pengamatan yang terhidang sepanjang jalan.

Rasulullah bersabda pada umatnya, agar sepulang shalat Ied mengambil rute berbeda dari jalur keberangkatan. Dengan begitu, kita dapat bersilaturahim dengan lebih banyak orang. Sahabat lama atau tetangga yang jarang berjumpa.

Setiap orang memiliki cara masing-masing. Jika ingin mencari hal baru dari rutinitas rumah dan kampus, saya putuskan berjalan kaki. Melintasi jarak sejauh 7 km yang biasa saya lalui dengan duduk di angkutan umum. Merentangkan waktu tempuh dan mencoba rute berbeda. Menghindari ketergesaan, membantu setiap indera untuk merasa lebih peka. Hadir utuh pada waktu dan tempat. Menjadi bagian dari peristiwa dan kejadian.

Pernah suatu pagi saat menikmati langkah kaki, perhatian saya tertuju pada sebuah SD di sisi kiri jalan. Halamannya cukup luas, asri dipagari pohon rindang. Tak terlihat deretan pedagang jajanan yang biasa mengitari sebuah SD. Rasa lega menyeruak. Perasaan ini tidak pernah hadir jika saya hanya melihat sepintas kondisi jalan dari angkutan umum.

Lebih dari itu, tertangkap keriangan murid-murid disana. Berjibaku membersihkan gedung, halaman, sampai trotoar jalan. Semua bekerja dengan gembira, menikmati kelegaan hasil upaya bersih-bersih mereka. Murid dan guru ikut andil menciptakan perasaan nyaman. Saya yang hanya pelintas jalan, ikut menerima manfaatnya.

Pengalaman itu menciptakan sensasi menyenangkan hingga sampai tujuan. Satu jam perjalanan terbayar tuntas. Tidak ada waktu sia-sia ketika jiwa mendapatkan kembali kesegarannya. Hal baru ada di setiap buih, jika merasakan dengan lebih jernih.

Lagipula, ‘merasa’ adalah wujud syukur kepada Allah yang telah memberi kita hati.  Menjalani garis masa dengan kesadaran penuh. Tanpa distraksi, baik kegelisahan diri ataupun segenggam dunia berupa sosial media yang tak henti memberi notifikasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s