Perspektif

Ketika Roy Terjebak Persepsi

roy
Illustration by: Tan Panama

Sekitar lima tahun, saya menjadi relawan di rumah singgah Sahabat Anak Jalanan Cimahi. Tak sekadar alasan kemanusiaan, saya juga merasakan kesan yang tak mudah dijelaskan ketika bersama mereka. Saya berkegiatan disana, hingga mengenali nama, wajah, serta keseharian setiap anak.

Anak-anak yang beranjak remaja, meninggalkan aktivitas jalanan seperti mengamen untuk menjadi buruh bangunan. Dari satu angkot ke angkot lainnya, anak-anak kecil bertaruh dengan kesempatan. Kami belum sanggup memberi mereka penghidupan atau banyak pilihan.

Siang itu saya duduk di pojok angkot, melintasi Jalan Dustira Cimahi. Lambat-lambat, terhambat lalu lintas yang begitu padat. Tiba-tiba seorang anak masuk, bersiap mengamen. Saya mengenalinya sebagai salah satu anak penghuni rumah singgah, sebut saja Roy.

Tak lama, baru saja ukulele akan dimainkan, anak itu terkekeh lebar saat kami bersitatap. “Eh, ada si Kakak”, katanya dengan senyum malu-malu. Sedikit tergesa Roy keluar dari angkot yang masih berjalan.

Saya memanggilnya, mempersilahkan untuk mengamen. Roy hanya geming, mengulum senyum di trotoar sambil menatap angkot berlalu. Keberadaan saya membuatnya batal mengamen di angkot. Menyisakan saya yang termangu, dikelilingi pandangan penuh tanya dari penumpang angkot lain.

Dari peristiwa singkat itu saya memahami satu hal, bahwa jati diri kita bisa saja terperangkap dalam persepsi orang lain. Kita seringkali menunjukkan suatu citra di hadapan sekelompok orang dan menampilkan citra yang berbeda ketika bersama kelompok lain. Ada perasaan takut dan sungkan untuk melakukan hal baru atau menunjukkan perubahan cara bersikap di hadapan seseorang yang lama kita kenal. Terlebih, jika pergantian citra diri itu merupakan suatu kepura-puraan.

Saya dan Roy adalah teman. Tentu aneh jika Roy mengamen di hadapan saya untuk mendapatkan uang. Di matanya, saya adalah teman, meski saya bertindak seperti penumpang angkot saat itu. Roy akan merasa malu untuk memasang topeng memelas ketika meminta uang.

Contoh lain, pada suatu acara kaderisasi, saya pernah menyaksikan seorang koordinator lapangan yang tampak begitu canggung mendisplinkan seorang peserta. Ketegasan kordinator lapangan patah ketika berhadapan dengan perserta tersebut. Tentu saja, ternyata mereka adalah teman kuliah satu jurusan.

Para pemain teater yang berlakon drama pun harus mengolah rasa untuk dapat tampil dengan baik. Mengasingkan diri dari dunia di luar batas panggung. Menganggap penonton hanya bayi yang tidak mengerti atau bahkan patung yang tak memiliki persepsi. Jika sekilas saja ia memikirkan respon atau perspektif penonton terhadapnya, penampilannya akan menjadi tidak alami.

Memang suatu kewajaran dalam konteks pementasan atau sekadar penampilan. Akan menjadi masalah jika persepsi orang lain juga mengganggu kita menuju perubahan yang lebih baik. Menjebak kita dalam dilema ketika akan mengubah sikap menjadi lebih dewasa atau berpenampilan lebih sopan.

Kita merasa terganggu dengan reaksi lingkungan yang tak jarang berlebihan, baik positif maupun negatif. Malu untuk sholat, malu untuk berkerudung, malu untuk menggumamkan nama Allah, semata karena takut dengan cap sok alim. Menyakiti rasa percaya diri hingga kehilangan kendali atas diri sendiri. Tak jarang kita lupa, bahwa hanya satu pandangan yang patut mempengaruhi kita, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Roy bukan termasuk mereka yang lupa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s