Oase

Rumah-Rumah di Gang Sempit

rumah
Illustration by: Tan Panama

Rumah saya berada di permukiman padat dengan gang seluas satu meter lebih sedikit. Di antara rumah-rumah yang berimpit, kami sulit mendapat privasi atau kesunyian layaknya perumahan elite. Keramaian tetangga, suara televisi, hingga tangisan bayi seringkali masuk rumah tanpa permisi. Riuh rendah anak-anak kecil berlarian disusul teriakan para pedagang keliling, semakin membuat suasana jauh dari ketenangan.

Namun, tidak ada satu pun tempat di dunia yang luput dari kasih sayang-Nya. Dibalik kebisingan, saya mendapat hikmah dan pelajaran. Terutama melalui adat istiadat kami dalam bertetangga.

Kisah ini terjadi sebelum tahun 2000. Saat itu, masih sangat jarang orang yang memiliki telepon seluler. Hanya sedikit pula keluarga yang memasang telepon rumah. Seperti di lingkungan kami, hanya satu tetangga yang memilikinya, tepat di sebelah rumah saya. Pemilik telepon rumah (sebut saja Pak A), mengizinkan para tetangga menggunakan teleponnya jika hendak dihubungi orang lain.

Kakak perempuan saya –biasa saya panggil Teteh- sedang kuliah di Yogyakarta. Jika ada keperluan, Teteh menghubungi nomor telepon rumah milik Pak A. Beberapa kali rumah kami diketuk oleh Pak A ketika ada telepon dari Teteh.

Tidak lama berselang, alhamdulillah kami bisa memiliki telepon rumah sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Pak A, Bapak pun melakukan hal yang sama dengan telepon rumah kami. Bapak memberikan nomor telepon rumah kepada para tetangga jika suatu saat ada yang ingin menggunakannya.

Sejak itu, beberapa kali ada panggilan telepon yang ditujukan untuk tetangga kami. Biasanya, telepon dimatikan terlebih dahulu. Lalu, kami memanggil tetangga yang dituju agar ketika telepon kembali berdering, ia bisa mengangkatnya. Bahkan telepon rumah kami juga pernah berdering pada dini hari. Panggilan dari keluarga tetangga yang menjadi TKI di Arab Saudi.

Seiring waktu, telepon rumah sudah tidak umum digunakan. Hampir setiap orang memiliki alat komunikasi masing-masing berupa telepon seluler. Namun, kekerabatan para tetangga yang dibangun oleh telepon rumah itu, masih selalu terjaga.

Di sisi lain, kedekatan jarak antar pintu juga memberi kehangatan tersendiri. Kami sering berbagi makanan -dengan atau tanpa- momen tertentu. Tidak hanya ketika berlimpahan oleh-oleh dari sanak keluarga, ada pula yang sengaja memasak lebih banyak untuk dibagikan pada tetangga. Saat bulan Ramadhan, beberapa kali kami mendapat kiriman hidangan untuk berbuka. Katanya, agar bisa saling mencicipi. Dengan kata lain, berbagi rasa yang sama.

Selain itu, sudah menjadi etika dan budaya, ketika piring atau mangkuk berisi makanan diberikan, maka tidak akan dikembalikan sebelum diisi pula dengan makanan lain sebagai balasan. Setiap tetangga melakukannya, begitu pula keluarga kami.

Keindahan bertetangga juga sangat terasa ketika salah satu rumah mengadakan hajatan. Saling bantu dengan meminjamkan peralatan masak dan makan. Kaum ibu juga beramai-ramai memasak bersama dan menyiapkan berbagai kebutuhan.

Satu untuk semua, semua untuk satu.

Perihal definisi, menurut Rasulullah, tetangga mencakup 40 rumah ke depan, ke belakang, ke samping kiri dan ke samping kanan. Jika diaplikasikan, cukup jauh jarak yang mesti ditempuh untuk memenuhi arti tetangga. Dengan kata lain, hak-hak tetangga untuk dimuliakan dan dijenguk ketika sakit, berlaku terhadap banyak sekali orang, yang saat ini bisa jadi belum kita kenal.

Beruntung bagi kami yang bermukim di gang sempit. Jarak yang lebih dekat memberi banyak kesempatan untuk mengikat ukhuwah semakin erat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s