Perspektif

Tangisan Anak dalam Kereta

kereta
Illustration by: Tan Panama

Suatu hari di bawah langit sore, saya berjalan kaki dari kampus ke terminal. Dari terminal menaiki bis yang melewati stasiun. Masuk stasiun melalui pintu selatan, lalu naik kereta ekonomi.

Gerbong cukup sesak, hingga saya tidak mendapat kursi. Bukan masalah, dari stasiun Bandung ke stasiun Cimahi tergolong dekat. Dengan posisi berdiri jangkauan pandang juga menjadi lebih luas dibandingkan jika saya duduk.

Lagipula, saya suka menonton manusia, mengobservasi fenomena atau segala hal yang terpindai mata, atau tertangkap telinga. Saat itu, suara tangisan seorang anak mendominasi gerbong kereta. Usia anak itu sekitar satu tahun. Ia menangis dalam gendongan seorang perempuan tua, dan mengundang perhatian beberapa orang. Saya tidak tahu pasti alasan anak itu menangis cukup keras. Yang pasti, tangisan adalah salah satu bahasa mereka untuk bicara. Saya pikir itu hal biasa.

Disamping perempuan yang menggendong anak itu, duduk seorang perempuan muda. Besar kemungkinan, perempuan muda itu adalah ibunya, sedangkan yang menggendong adalah neneknya.

Saya terus mengamati tangisan anak itu. Seketika saya tersentak kala melihat ulah perempuan muda. Ia menuangkan air bersoda berwarna merah ke tutup botol. Lantas terjadilah, ia menyuapkan tutup botol itu ke mulut sang bayi!

Melihat kejadian mengerikan tidak jauh dari mata, saya geram ingin bertindak. Syukurlah, seorang perempuan paruh baya yang duduk di seberang mereka terlebih dulu ambil tindakan. Ia menegur keras perempuan muda tersebut. “Bayi kok diberi minuman seperti itu! Sudah cukup, diberi air putih saja!”

“Tidak ada air putihnya!”, perempuan tua yang menggendong anak itu menjawab ketus. Mungkin ia jengah karena ditegur dengan keras di hadapan banyak orang.

“Kasihan Bu, sama anaknya. Jangan diberi minuman seperti itu!”

“Ini Bu, ada air putih. Minum ini saja!” Seorang Bapak yang duduk disamping mereka menyodorkan sebotol air kepada perempuan muda.

Alhamdulillah, terselamatkanlah anak itu dari minuman yang tidak layak baginya.

Ketika peristiwa itu berlangsung, gerbong hening sejenak. Seluruh perhatian terpusat pada mereka. Bisa ditebak, setelahnya orang-orang justru ramai membicarakan betapa tega mereka memperlakukan anak tersebut. Wajar saja menjadi buah bibir, kita tahu minuman bersoda tidak baik bagi lambung orang dewasa, apalagi anak berumur satu tahun!

Memang benar, perempuan muda tadi menangkap sinyal tangisan anaknya yang sedang kehausan. Tapi, memberikan minuman bersoda adalah respon yang tidak bisa dibenarkan, bahkan teramat fatal. Terlebih lagi, semoga ada alasan kuat yang membuat mereka tidak memberikan ASI. Jika tidak, saya hanya bisa berdoa semoga anak itu terus terselamatkan.

Untuk hal ini, saya sepakat dengan John Wood, “Orangtua secara genetik terprogram untuk melakukan apa saja yang dibutuhkan untuk membantu anak-anak mereka bertahan hidup.” Sembilan bulan sudah cukup bagi seorang ibu untuk menjalin hubungan fisik dan batin dengan bayi. Secara alamiah, setiap orangtua telah memiliki bekal untuk membesarkan anaknya. Mereka diberi Allah kemampuan memahami bahasa bayi. Dilimpahi kasih sayang, serta perasaan cinta sepanjang masa.

Hanya saja, warisan alamiah tidak cukup bagi orang tua untuk menjaga amanah Allah yang paling berharga. Sekuat apapun radar orang tua terhadap anaknya, masih diperlukan pembelajaran tanpa akhir dalam menjaga, merawat, dan mendidik anak-anak. Ada hal-hal yang membutuhkan upaya lebih untuk dapat diwujudkan. Menyiapkan lingkungan dan memberi perlakuan yang baik, misalnya.

Karena bagaimanapun juga, memenuhi kebutuhan anak adalah tanggung jawab orang tua. Memastikan anak tumbuh dalam penjagaan dan pendidikan terbaik yang bisa diberikan. Dengan begitu, mengandalkan nature saja tidak akan cukup, diperlukan nurture yang menyempurnakannya.

Allah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah:233, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.”

Maka, jelas bahwa pemberian ASI merupakan sesuatu yang prioritas hingga termaktub dalam Al-Qur’an. ASI yang mengalir dari tubuh seorang ibu merupakan benih cinta abadi yang ditanamkan oleh orang tua sejak dini. Bukan hanya menjadi urusan ibu, para ayah juga memiliki andil dalam keberhasilan proses pemberian ASI selama dua tahun penuh. Perihal itu, kita bisa belajar pada akun twitter @ID_AyahASI.

Kita sepakat, keluarga adalah sumber pembelajaran utama bagi anak. Teori golden age mengatakan bahwa kualitas hidup dan pembelajaran seorang anak pada usia 0-5 tahun adalah masa-masa paling berpengaruh dalam perkembangan selanjutnya. Orang tua diharapkan bisa menjadi pembimbing pengetahuan, akhlak, dan kasih sayang bagi anak-anak mereka. Bukan guru sekolah, bukan pula lingkungan permainan. Apalagi, saat ini banyak sekali bahaya mengintai bagi dahaga pikiran anak yang penuh keingintahuan.

Alangkah indah jika kelak mereka dapat menjadikan orang tua sebagai teman kepercayaan. Tempat mereka bercerita dan meminta pertimbangan dalam mengambil keputusan. Untuk itu, orang tua harus terus belajar, meningkatkan kemampuan, menjadi teladan, dan mengikuti perkembangan anak, serta dunia mereka.

Anak-anak harus dijaga agar selalu menyerap ucapan yang baik, jujur, dan untaian harapan mulia. Apalagi, kata-kata dari orang tua memiliki kekuatan doa. Maka, menjaga lisan juga merupakan bentuk perbaikan bagi generasi mendatang.

Ketika menjadi orang tua, insyaa Allah, saya juga ingin memberi pembiasaan moral yang baik bagi anak-anak. Dimulai dari hal sederhana berupa kejujuran, konsep kepemilikan, tidak mendzalimi orang lain, serta kebiasaan kecil yang menjadi krisis di negara kita seperti mengantre dan buang sampah pada tempatnya. Tentu saja, saya harus terlebih dulu menjadi figur yang layak untuk dicontoh.

Satu hal yang tidak mudah, menjaga bukanlah memenjara. Tidak bisa kita hindari, anak-anak harus terjun menjadi bagian dari masyarakat dan dunia yang tidak seindah tatanan ideal. Maka, biarkan anak-anak mengenal kondisi dunia. Tugas kita, menanamkan imunitas dan pemahaman yang benar, hingga mereka menjadi pribadi tangguh dengan prinsip utuh yang teguh.

Lukmanul Hakim berpesan pada putranya untuk menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Pendekatan iman dengan sebenar-benarnya tauhid. Seperti kutipan puisi Widji Thukul, “Dengan kebajikan, Ibu mengenalkanku kepada Tuhan”.

Karena, kita manusia dengan keterbatasan. Kita tidak mampu menjaga mereka setiap saat dan setiap tempat. Maka hanya Allah sebaik-baik penjaga dan penolong kita sekeluarga. Untuk itu, sebisa mungkin kita selalu mengingat Allah dalam setiap proses yang terkait. Mulai dari menyiapkan diri, memilih pasangan, dan rangkaian lain yang tidak ada habisnya sebelum kita bertanggungjawab di hadapan-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s