Lentera Jumat

Jum’at illa Jum’at

Memasuki ruang tengah masjid, belum banyak jamaah Jum’at yang datang. Menunggu waktu adzan, seorang bapak saya perhatikan sedang khusyu’ membaca Yaasiin. Dua orang bapak di shaf pertama sedang menunaikan sholat sunnah. Saya membuka halaman surat Al-Kahfi tapi belum membaca, masih melihat suasana di dalam masjid.

Tepat di shaf belakang, seorang pemuda dengan kaos hitam sedang tekun memunguti sampah remah di karpet. Dia comot dengan jari setiap melihat noktah debu, kerikil kecil, sobekan kertas, rambut, atau potongan benang. Sekecil apapun sampah yang terlihat,  dia bersihkan.  Menarik sekali memerhatikan pemuda itu. Dia menyisir remah-remah dari shaf belakang hingga ke depan. Meski jamaah mulai ramai berdatangan, dia tetap fokus pada pekerjaannya.

Saya jadi teringat pernah melihat petugas di masjid lain dengan mudah membersihkan remah dan debu karpet dengan bantuan mesin vacuum cleaner. Tapi di masjid ini dilakukan dengan cara manual, satu persatu dicomotnya dengan tangan. Bukan dengan mesin bukan juga menggunakan sapu. Padahal, jika dengan mesin vacuum atau sapu bisa lebih efektif dan lebih cepat pengerjaannya. Meskipun harus ada cost tambahan untuk perawatan alat dan beban daya listrik yang cukup besar.

Terlepas dengan mesin vacuum, sapu, atau dipungut dengan tangan ternyata yang lebih penting dari itu semua kesungguhan tangan-tangan yang bekerja di baliknya. Tidak ada pekerjaan kecil, semisal membersihkan remah karpet masjid. Justru dari pekerjaan itu bisa menjadi perbuatan besar. Di balik remah-remah itu tercatat sebagai satu ibadah mulia bagi mereka. Mereka menjadi jembatan kebaikan bagi orang lain yang merasakan manfaat karpet yang bersih serta kenyamanan dalam menjalankan sholat.

***

Di sisi kiri sebaris dengan saya, seorang bapak mengambil Al-Qur’an dari bingkai jendela. Baru dibuka sejenak, seorang jamaah lain dari arah belakang menghampiri. Lalu, mengulurkan tangan, sebagaimana lazimnya para jamaah yang bersalaman dengan jamaah di dekatnya. Terdengar percakapan, bapak yang menghampiri itu meminta menukar Al-Qur’an di bingkai jendela dengan Al-qur’an yang dibawanya. Katanya, halaman baca Al-Qur’annya ada di Al-Qur’an yang dia simpan di jendela itu. Bapak yang duduk di dekat jendela, dengan senang hati menukarkan Al-Qur’an tersebut.

Menyaksikan kejadian orang menukar Al-Qur’an, mengantarkan pengalaman saya tiga tahun lalu di Masjid Al-Murrobi. Malam itu, di sela waktu mabit saya mengerjakan tugas kursus bahasa Arab pada selembar kertas. Saya membuka Al-Qur’an yang tersedia di sudut masjid untuk mencari kata yang akan saya tuliskan. Agar mudah, saya menyalin kata dari Al-Qur’an di kertas tugas yang saya simpan di atas Al-Qur’an.

Tiba-tiba datang menghampiri seorang bapak dengan wajah Arab bergamis putih, ditangannya menjinjing buku catatan hardcover berukuran besar. Dengan isyarat tangan, beliau menegur saya jangan menulis dengan alas Al-Qur’an. Beliau menawarkan buku yang dibawanya sebagai pengganti alas Al-Qur’an. Secara halus saya menolak buku pengganti dari beliau. Saya keluarkan buku lain dari tas untuk dijadikan alas pengganti Al-Qur’an.

Karena malu berbuat salah, saya meminta maaf padanya dengan mengucapkan “afwan, afwan”. Orang tersebut lalu berkata dengan bahasa Arab yang saya tidak mengerti. Mungkin permintaan maaf saya diterima, karena beliau berkata sambil tersenyum-senyum. Saya hanya menggangguk, “thayib, thayib.” Tengah malam, ketika qiyamul lail berjamaah, saya semakin malu karena ternyata sosok berwajah Arab yang menegur saya itu ternyata berdiri menjadi imam sholat dengan suaranya yang indah.

Semacam take and give. Apa yang akan kita ambil kita beri. Saat seorang bapak ingin menggunakan Al-Qur’an yang terlanjur dipegang orang lain, dia berikan Al-Qur’an lain sebagai gantinya. Lalu, ketika bapak Arab menegur saya jangan menjadikan Al-Qur’an sebagai alas menulis, beliau sediakan buku lain sebagai gantinya. Cara timbal balik seperti ini pasti sangat menenangkan bagi kedua belah pihak.

Dalam sehari-hari kita pernah menegur orang lain. Alangkah indahnya, jika bukan salahnya saja yang kita ingatkan, tetapi juga saran perbaikannya. Saat melihat masalah, bukan hanya masalah saja yang dibicarakan, melainkan solusinya juga. Menyampaikan komentar, kritik atau protes akan lebih baik jika diiringi dengan nasihat atau pendapat yang dapat membangun dan menjadi pengingat agar tidak mengulang salah yang sama. Jika mekanisme ini dilaksanakan akan menegakan keseimbangan memberikan harmonisasi dalam kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s